Feeds RSS
Feeds RSS

Minggu, 21 Juni 2009

Tambang Batubara Meledak, 10 Hangus Terbakar

PADANG-Naas menimpa puluhan penambang batubara di Bukit Bual, Nagari V Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar). Kemarin (16/6) pagi, lokasi penambang tiba-tiba meledak dan menimbulkan longsor. Akibatnya, 10 orang penambang yang sedang bekerja hangus terbakar dan puluhan lainnya terkubur di lokasi penambangan.

Hingga kemarin petang, tim SAR gabungan dari dinas kesehatan dan kepolisian baru berhasil mengevakuasi delapan mayat penambang yang tewas. Sementara puluhan penambang lainnya sejauh ini masih terkubur dalam lubang tambang sedalam 30 meter.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di RSUD Sawahlunto satu korban tewas belum bisa diidentifikasi karena tubuhnya hangus terbakar. Selain itu, rumah sakit tersebut juga merawat 9 korban lainnya yang berhasil selamat. Dari 9 korban selamat itu dua diantaranya kritis, yakni Afriadi (19) dan Son (61).
Kepala Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward mengatakan sepuluh orang yang berada di sekitar lubang tambang ketika ledakan terjadi mengalami luka bakar sementara lebih dua puluh penambang yang masih berada dalam lubang tambang diperkirakan tewas. “Kemungkinan korban yang masih terperangkap tewas akibat kehabisan oksigen,” katanya.

Umumnya korban menderita luka bakar di sekujur tubuh, beberapa bahkan tidak sadarkan diri. Sementara satu orang tewas yang dibawa ke rumah sakit, kondisinya hangus dan sulit diidentifikasi. Lokasi ledakkan tambang itu berada di lokasi yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Sawahlunto.

Korban selamat Afriadi dan Son mengatakan saat peristiwa terjadi mereka hanya merasakan angin panas yang kuat menerjang mereka. Saat itu mereka berada di pintu gua. Karena terjangan angin kuat dan panas itu mereka terlempar. “Kemudian saya dengar gemuruh dinding gua runtuh,” terang Son.

Hingga kemarin, pihak RS Sawahlunto telah menerima 10 korban musibah. Daftar identitas 10 korban berdasarkan data dari RS Sawahlunto masing-masing Sonfebri (28), Nofriadi (19), Anhar Bengkulu (33), Eko (26), Ernabakar (43), Alwizar (64), Upri (34), Bambang Edi (48), Ali Munas (55).

Tim SAR dari kepolisian dan Basarnas terus mengupayakan evakuasi korban yang tertimbun. Berdasarkan pantauan di lokasi, sekira lima orang petugas SAR mengenakan masker oksigen masuk ke dalam lubang di mana puluhan pekerja tambang rakyat itu terperangkap akibat longsoran dinding gua saat ledakan terjadi.
Lubang tambang yang berukuran tinggi sekira 1,5 meter dan lebar satu meter yang mulanya tertutup reruntuhan dinding gua, sudah berhasil dibersihkan sedikit demi sedikit sehingga tim SAR bisa menembus masuk ke dalam gua.

Dari lima lubang galian, namun hanya satu yang tertimbun tanah. Ledakan tersebut juga telah memporakporandakan bangunan pondok yang ada di depan lubang gua.
Sementara itu Corporate Secretary PT Bukit Asam (BA) Eko Budhiwijayanto menyatakan, insiden terjadi bukan di tambang Bukit Asam. “Memang lokasinya berdekatan dengan lokasi tambang kami. Itu tradisional miners. Ini tidak mempengaruhi aktivitas tambang kami,” katanya.

Menurut keterangan, aktivitas penambangan liar oleh masyarakat Sawahlunto dan Sijunjung itu sangat tidak aman dan hanya menggunakan perlengkapan penambangan seadanya. Mereka melakukan penggalian tanpa bantuan oksigen dari luar. Selain itu, mereka juga tidak mempertimbangkan pentingnya ventilasi udara agar gas metan yang berbahaya dapat keluar.

Walikota Sawahlunto, Amran Nur mengaku belum mendapat informasi mengenai penyebab kejadian. Namun diduga kuat, peristiwa tersebut akibat ledakan gas Metan yang biasa ada di dalam tambang. (net/bbs/jpnn)

0 komentar:

Posting Komentar